Kelok 9Kelok 9 (kelok Sambilan) atau dalam bahasa Inggris disebut “the Nines Curve” merupakan jalan penghubung utama provinsi Sumatera Barat dengan provinsi Riau. Kata kelok mungkin lebih familiar bagi orang Sumatera, berbeda dengan yang berasal dari pulau Jawa yang lebih mengenal tikungan. Kelok 9 adalah jalan dengan tikungan yang berjumlah sembilan, dimana setiap tikungan adalah batas untuk ketinggian yang berbeda. Tikungan pertama lebih rendah dibanding tikungan kedua, dan begitu seterusnya sampai pada puncak tikungan yaitu tikungan ke 9.

“9 curve climbs” adalah quote yang diberikan sebuah website ensiklopedia membahas khusus jalan spektakuler di dunia. Sesuai fakta, ke 9 tikungan ini benarlah merupakan tanjakan dan membuat mobil dipaksa “memanjat” jalan yang akan dilewati karena beda ketinggian yang signifikan.

KELOK 9 SAKSI SEJARAH SEBELUM INDONESIA MERDEKA

Kelok 9 berusia jauh lebih tua dari Negara Indonesia, yaitu dibangun pada tahun 1908 pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Jalan yang meliuk disepanjang Bukit Barisan ini hanya sepanjang 300 meter, lebar 5 meter dan tinggi kurang lebih 80 meter. Jalan ini dibangun untuk menghubungkan antarkawasan pada masa itu sangat vital bagi pemerintahan Hindia Belanda mengingat banyaknya rempah-rempah yang akan di transportasikan menuju Teluk Bayur, Sumatera Barat.

LOKASI


Kelok 9 terletak di sebelah Timur kota Payakumbuh, berjarak kurang lebih 30 KM, dan hanya sekitar 20 menit dari objek wisata Lembah Harau. Tepatnya di Nagari Parsiapan Hulu Aia , kecamatan Harau, Kabupaten Limapuluh Kota. Ketinggian dari permukaan laut adalah sekitar 1000 meter. Jarak dari kota Padang menuju kelok 9 bisa ditempuh kurang lebih 4 jam menggunakan mobil dengan jarak 145 KM.

LATAR BELAKANG DIBANGUNNYA FLY OVER KELOK 9

Kelok 9 menjadi jalan penghubung sangat vital antara SUMBAR dengan RIAU. Pada tahun 2000, menurut data Kementrian Pekerjaan Umum, volume kendaraan yang melewati jalan ini lebih dari 10 ribu unit tiap harinya, pada saat libur atau long weekend terjadi lonjakan 3 sampai 4 kali lipat. Kendaraan ini tidak hanya mengangkut barang, tapi juga orang sebagai penumpang utamanya. Barang yang diangkut merupakan hasil pertanian dan ternak dari Sumatera Barat menuju Riau.

Kemudian pada hari libur arus lalu lintas kendaraan meningkat karena banyak yang akan berlibur ke Sumatera Barat. Hal ini disebabkan masih eratnya keterkaitan antara Melayu (Riau) dan Minangkabau. Banyak juga perantau yang tinggal di Riau umumnya berasal dari Sumatera Barat.

Seiring meningkatnya volume kendaraan tersebut, pertimbangan untuk pelebaran jalan pun mustahil dilakukan karena lebar jalan yang hanya 5 meter itu langsung berbatas dengan tebing yang langsung menyatu dengan ruas jalan yang ada dibawah maupun atasnya. Sering terjadi kemacetan di kelok 9 ini karena antrian kendaraan pada tiap tikungan, itupun sudah dibantu para relawan yang menjaga tikungan agar kendaraan lewat secara bergantian.

Bagi pengemudi dump truck, ini merupakan tantangan yang sangat berat, disamping sempitnya ruas jalan, panjang jalan yang hanya total 300 meter dari ke 9 tikungan membuat setiap tikungan hanya berjarak sekitar 30 meter. Panjang unit dump truck juga jadi perhitungan yang membuat pengemudi harus ekstra hati-hati dalam memutar stir. Tidak jarang truck maupun dump truck yang tergelincir di tikungan ini. Tikungan paling rawan adalah kelok 3 dimana sebelah kiri adalah jurang yang dibawahnya menyatu dengan kelok 1.

Jarak tempuh Payakumbuh – Pekanbaru yang seharusnya dapat ditempuh dengan waktu 4 jam, dengan kondisi kelok 9 ini bisa memakan waktu 6 sampai 7 jam.

Untuk mengatasi persoalan infrastruktur yang penting ini, pemerintah terkait dalam hal ini adalah Dinas Prasarana Jalan provinsi Sumatera Barat mengajukan usulan kepada pemerintah pusat melalui Badan Perncanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS).

KELOK 9 JADI PEMBANGUNAN NASIONAL

Pada awal tahun 2002 dilakuan pengecekan ulang oleh Independet Professional Checker dari LAPI ITB yang dipimpin Dr. Ir. Jodi Firmansyah. Hal ini dilakukan guna memastikan tidak ada kesalahan terhadap perhitungan struktur bangunan. BAPPENAS menyetujui pembangunan fly over kelok 9 pada Agustus 2003, yang kemudian mulai dikerjakan pada bulan November 2003 dengan anggaran ABN sebesar Rp. 10 miliar.

Pembangunan ini kemudian mendapat dukungan langsung dari presiden pada waktu itu Megawati, disaat berkunjung ke Sumatera Barat dalam pengukuhan gelar suaminya, (alm) Taufiq Kiemas. Gelar kerajaan ini diberikan oleh Istana Pagaruyung di Tanah Datar sebagai Datuak Basa Batuah pada Desember 2003. Dalam jamuan makan di rumah dinas gubernur, wartawan senior Karni Ilyas juga disebut sebagai salah satu yang ikut mengedepankan pembangunan kelok 9 sebagai ikon Sumatera Barat.

SEMPAT TERHALANG PENDANAAN

Pengalokasian dana tiap tahun ditingkatkan sampai 2009, namun masih jauh dari total dana yang direncanakan. Gubernur Sumatera Barat bersama Dinas Prasarana Jalan provinsi meminta pusat untuk dana yang lebih besar lagi. Permintaan ini direspon positif oleh Komisi V DPR, Mulyadi pada Mei 2010. APBN untuk tahun 2010 sampai 2013 kemudian diarahkan ke kelok 9 dengan andil Mulyadi sebagai pimpinan Komisi V DPR tersebut. Dia ingin kelok 9 bukan sekedar kebanggan bagi Sumatera Barat khususnya Lima Puluh Kota, tapi kelak juga diaharapkan menjadi kebanggan Indonesia.

Setelah pengerjaan yang memakan waktu kurang lebih 10 (sepuluh) tahun. Pada 31 Oktober 2013, kelok 9 pun diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia kala itu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). SBY sangat takjub melihat pemandangan yang ada di Kelok 9. Sebelum diresmikan, fly over kelok 9 sudah lebih dulu dilewati event internasional Tour de Singkarak ke 5 (2-9 Juni 2013) untuk Stage II.

HASIL KARYA ANAK BANGSA NAN UNIK

Ir. H. Dahler, M.Sc adalah sosok dibalik kesuksesan pembangunan mega proyek fly over kelok 9. Sebuah karya anak bangsa yang patut dibanggakan. Dahler saat itu menjabat sebagai Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional Wilayah I Sumatera Barat, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional II. Konsep yang diusung adalah green construction yang menggunakan produk serta bahan dalam negeri.

Keunikan kelok 9 membuat pengguna jalan tidak akan pernah merasa bosan jika melewati jembatan ini. Ketinggian yang menyeramkan ini ditopang 30 tiang kokoh dengan ketinggian rata-rata 12 meter dengan terbagi menjadi 6 jembatan. Ruas jalan yang meliuk-liuk ini memiliki panjang 2,5 KM, jika dilihat menggunakan kamera drone akan terlihat sangat unik.

Fly over Kelok 9 dibangun dengan menyatukan dua buah perbukitan, menjadikan jalan yang dilalui tidak lagi terjal. Dengan tidak mengusik bentuk kelok 9 aslinya yang berada di sisi lain jembatan, pemandangan unik kelok 9 yang lama pun bisa dinikmati dari sisi jembatan kelok 9. Sebaliknya, untuk meilhat bangunan fly over, bisa melewati kelok 9 lama yang mana masih tetap terbuka sebagai jalur alternatif jika terjadi kepadatan arus kendaraan. Namun bagi yang belum biasa melewati dihimbau untuk tetap hati-hati berkendara. Kendaraan yang datang dari arah berlawanan akan sulit terlihat dan diharapkan untuk membunyikan horn atau klakson di setiap tikungan.

IKON WISATA SUMATERA BARAT

Kelok 9View mempesona ditawarkan kelok 9 sangat mengundang pengendara yang melewatinya, tidak jarang pengendara berhenti sekedar menikmati alam yang hijau disekitar, atau bisa ber swafoto bahkan rehat sejenak sambil menghirup udara segar.

Kelok 9 memberi ciri khas tersendiri bagi pariwisata Sumatera Barat, fly over di tengah hutan menjadi suatu yang langka ditemukan. Pada umunya fly over dibangun di antara gedung tinggi dan pusat perkotaan yang tidak lagi hijau. Hutan di kiri dan kanan jembatan  merupakan Cagar Alam Aia Putiah dan Cagar Alam Harau. Lokasi ini menjadikan kelok 9 tetap terjaga dari sembrawutnya bangunan yang kelak akan bermunculan. Bagi anda yang berkunjung ke Sumatera Barat, sangat disarankan untuk singgah dan melewati jembatan kelok 9 ini. Bahkan di negeri jiran Malaysia kelok 9 sudah terkenal berkat promosi Kementrian Pariwisata tentang Alam Indonesia yang tidak ada habisnya untuk di exlpore.