Kenasih customer support team is here to answer your questions. Ask us anything!
Home Destinations Bukittinggi Jam Gadang Bukittinggi, Misteri Sejarah Kota Wisata

Jam Gadang Bukittinggi, Misteri Sejarah Kota Wisata

Jam Gadang Bukittinggi

Jam Gadang BukittinggiJam Gadang Bukittinggi merupakan bangunan menara Jam yang terletak strategis di pusat kota Bukittinggi. Dengan julukan The Dreamland Of Sumatra, Bukittinggi menjadi tujuan wisata paling diminati di Sumatera Barat. Dihiasi dengan gonjong sebagai ciri khas Minangkabau pada bagian atas dari jam membuat jam ini terlihat megah dan punya identitas sendiri bagi masyarakat Bukittinggi.

Kota yang berjarak sekitar 72 km dari kota Padang dan kurang lebih 40 km dari Payakumbuh ini mempunyai banyak hal yang menarik yang sayang untuk dilewatkan. Dikota Bukittinggi ini kita bisa menjumpai berbagai objek wisata  seperti  wisata alam, wisata sejarah dan wisata kuliner, belum ke Bukittinggi namanya kalau belum singgah dan berfoto di Jam Gadang Bukittinggi.

 

Sejarah Jam Gadang Bukittinggi

Jam gadang selesai dibangun pada tahun 1926 sebagai hadiah dari ratu Belanda kepada sekretaris controller Fort De Kock atau sekarang dikenal dengan kota Bukittinggi. Pembangunan  Jam Gadang Bukittinggi ini menghabiskan biaya kurang lebih 3000 Gulden sebagai mata uang Belanda yang digunakan pada saat itu. Jika di-Rupiah-kan pada tahun 2017 maka setara dengan 22,7 juta. Merupakan biaya yang cukup fantastis pada saat itu. Hal itu pula yang menyebabkan Jam Gadang bukittinggi ini dijuluki sebagai markah tanah dan juga titik nol kota Bukittinggi. Renovasi terakir yang dilakukan pada jam gadang adalah pada tahun 2010 oleh BPPI dengan dukungan pemerintah kota Bukittinggi yang juga dibantu oleh kedutaan besar Belanda yang berada di Jakarta. Renovasi tersebut diresmikan tepat pada ulang tahun kota Bukittinggi yang ke 262 pada tanggal 22 Desember 2010.

 

Struktur Bangunan Jam Gadang Bukittinggi

Jam Gadang Bukittinggi dibangun pada era Hindia Belanda. Sebuah menara besar yang berdiri  setinggi 26 meter ini terletak di pusat kota Bukittinggi. Bangunan Jam Gadang ini  memiliki denah seluas 13 X 4 meter dan memiliki 4 tingkatan, pertama merupakan ruang petugas, tingkat kedua tempat bandul pemberat jam, tingkat ketiga adalah tempat mesin jam, sedangkan tingkat ke empat merupakan puncak menara dimana lonceng jam ditempatkan. Jam Gadang ini juga dikelilingi oleh taman taman yang pastinya akan membuat wisatawan betah berlama lama disini. Dengan diperluasnya taman disekitar menara Jam Gadang, tempat ini menjadi ruang terbuka bagi masyarakat sekitar yang ingin menyelenggarkan bermacam event. Seperti bazar, festival, senam Minggu Pagi dan lain lain.

Jam Gadang Bukittinggi

Jam yang berukuran diameter 80 centimeter ini didatangkan langsung dari Rotterdam Belanda melalui pelabuhan Teluk Bayur sebagai pintu perdagangan Asia Pasifik pada zaman itu. Digerakkan secara mekanik oleh mesin yang hanya dibuat 2 unit didunia. Pertama Jam Gadang Bukitinggi dan Big Ben di London Inggris.

Proses pembangunan Jam Gadang Bukittinggi  bisa dibilang unik, karena dibangun tanpa menggunakan teknik bangunan yang berbeda dibanding bangunan pada umumnya. Tidak memakai besi penyangga dan adukan semen, tetapi hanya dengan menggunakan bahan yang berasal dari sekitar wilayah Kota Bukittinggi. Bahan tersebut diantaranya kapur, putih telur dan pasir putih.

Misteri Jam Gadang Bukittinggi

Jam Gadang Bukittinggi selain memiliki sejarah yang kental, juga mempunyai misteri sendiri. Jika diperhatikan dengan teliti, penggunaan angka 4 (empat) pada jam terlihat aneh, karena jika angka tersebut adalah Romawi maka angka tersebut seharusnya “IV” bukan “IIII” yang seperti saat ini masih bertahaan. Fakta sejarahnya sederhana, hal ini bukanlah kesalahan seperti anggapan masyarkat pada umumnya. Tapi ini disengaja karena adanya perbedaan manuskrip terhadap penulisan angka Romawi.

Penulisan angka “IIII” tersebut adalah permintaan seorang raja Inggris yang memerintah pada saat itu. Bernama Raja Louis XIV dengan pertimbangan balancing dari desain jam yang dibandingkan dengan angka 8 yang ditulis “VIII”. Bagi masyarakat, Jam Gadang Bukittinggi mendatangkan berkah, sebagai tujuan wisata dan ikon Bukittinggi. Masyarakat bisa meningkatkan ekonomi dengan menjual berbagai aksesoris dan oleh-oleh khas Bukittinggi. Bahkan ada juga yang menyediakan jasa fotografer bagi anda yang ingin berfoto dengan kamera profesional, baik langsung dicetak maupun hanya dengan membawa soft copy sebagai kenangan ketika berwisata ke Jam Gadang Bukittinggi.